Salah satu dari sekian banyak amalan sunnah adalah sujud tilawah. Penamaan demikian merupakan penyandaran musabbab kepada sebab. Karena sujud tilawah dilakukan karena ada sebab yaitu tilawah, yaitu pembacaan ayat-ayat Qur’an tertentu yang disebut dengan ayat-ayat sajadah.
[B]Hukum sujud tilawah[/B]
Para ulama telah bersepakat tentang disyariatkannya sujud tilawah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar [I]radhiallahu’anhuma[/I], ia berkata: “Biasanya ketika Rasulullah [I]Shallallahu’alaihi wasallam[/I] membacakan kepada kami sebuah surat dari Al Qur’an yang terdapat ayat sajadah, beliau bersujud. Maka kami pun bersujud sampai-sampai salah seorang dari kami tidak mendapat tempat bagi dahinya” ([I]Muttafaqun ‘alaihi)[/I]. Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukum sujud tilawah, [I]jumhur ulama[/I] berpendapat hukumnya [B]sunnah[/B], sedangkan sebagian ulama seperti [I]Sufyan Ats Tsauri, Abu Hanifah, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[/I] berpendapat hukumnya [B]wajib[/B]. Namun pendapat yang benar hukumnya adalah [B]sunnah[/B] sebagaimana hadits yang terdapat dalam Shahihain dari Zaid bin Tsabit, bahwa ia membacakan surat An Najm untuk Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan beliau tidak bersujud. Padahal terdapat pula dalam Shahihain bahwa ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam membaca surat An Najm beliau bersujud. Hal ini menunjukkan bahwa sujud tilawah tidaklah wajib ([I]At Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an[/I])
[B]Keutamaan[/B]
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu’anhu, dia berkata, “Rasulullah bersabda yang artinya,[I] “Apabila seorang anak manusia membaca ayat sajdah lalu bersujud, maka syaithon menyingkir sambil menangis dan berkata, ‘Alangkah celakanya!’ Manusia diperintah untuk bersujud lalu dia bersujud, maka surgalah baginya, sementara aku diperintah untuk bersujud namun aku enggan, maka nerakalah bagianku.” [/I](HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad). Juga hadits lain yang menerangkan keutamaan sujud secara umum sangat banyak, antara lain hadits Tsauban, bekas budak Rasulullah,ia pernah bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga kemudian beliau menjawab:[I]“Hendaknya kamu memperbanyak sujud, sesungguhnya tidaklah engkau bersujud satu kali kepada Allah, melainkan Allah akan mengangkatmu dengan satu derajat dan menghapus darimu satu kesalahan” (HR. Muslim)[/I]
[B]Orang yang disyariatkan sujud tilawah[/B]
Para ulama sepakat disyariatkannya sujud tilawah bagi orang yang membaca ayat sajadah, baik saat sedang shalat ataupun di luar shalat, baik dalam keadaan suci maupun dalam keadaan berhadats. Namun para ulama berbeda pendapat tentang disyariatkannya sujud tilawah bagi orang yang sengaja mendengarkan dan orang yang tidak sengaja mendengar. Pendapat yang lebih kuat, bahwa disyariatkan bagi orang yang sengaja mendengarkan untuk sujud tilawah, namun tidak bagi orang yang tidak bermaksud mendengarkan. Syaikh Shalih Fauzan berkata: “[I]Sujud tilawah disyariatkan bagi orang yang membaca ayat sajdah dan mustami[/I]’, yaitu orang yang sengaja mendengarkan. Dan dalam hadits Umar: ‘Biasanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan kepada kami sebuah surat dari Al Qur’an yang terdapat ayat sajadah, beliau bersujud. Maka kami pun bersujud bersama beliau‘ terdapat dalil disyariatkannya sujud bagi mustami’. Sedangkan [I]saami’[/I], yaitu orang yang tidak bermaksud mendengarkan, pada dasarnya tidak disyariatkan sujud tilawah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhori, bahwa Utsman bin Affan radhiallahu’ahu melewati seorang qori yang sedang membaca ayat sajdah,maka Utsman sujud bersamanya. Namun pada suatu ketika, ia tidak bersujud lalu berkata: [I]‘Sesungguhnya sujud tilawah hanya bagi orang yang sengaja mendengarkan’ dan diriwayatkan hadits semisal ini dari sahabat yang lain” [/I](Mulakhosh Fiqhi)
[B]Ayat-ayat sajdah[/B]
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah ayat sajdah. Sebagian ulama berpendapat ada empat belas ayat, seperti Imam Syafi’I dan salah satu pendapat Imam Ahmad. Pendapat yang lain ada lima belas ayat, seperti pendapat Imam Ahmad dan Abu Ishaq Al Marwazi. Pendapat yang lain mengatakan ada sebelas ayat, ini merupakan pendapat Imam Malik. Yang lebih kuat adalah pendapat yang pertama (14 ayat) karena didukung oleh hadits-hadits shahih. Ayat-ayat tersebut adalah:
[#]Surat Al A’raf ayat 206[/#]
[#]Surat Ar Ra’d ayat 15[/#]
[#]Surat An Nahl ayat 50[/#]
[#]Surat Al Isra ayat 109[/#]
[#]Surat Maryam ayat 58[/#]
[#]Surat Al Hajj ayat 18[/#]
[#]Surat Al Hajj ayat 77[/#]
[#]Surat Al Furqan ayat 60[/#]
[#]Surat An Naml ayat 26[/#]
[#]Surat As Sajdah ayat 15[/#]
[#]Surat Fushilat ayat 38[/#]
[#]Surat An Najm ayat 62[/#]
[#]Surat Al Insyiqaq ayat 21[/#]
[#]Surat Al ‘Alaq ayat 19[/#]
Adapun ayat sajdah dalam surat Shad ayat 24 adalah mustahabbah (disukai) dan bukan termasuk ‘azaimus sujud (yang ditekankan untuk sujud). (At Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an)
[B]Cara Sujud Tilawah[/B]
Ketentuan-ketentuan dalam pelaksanaan sujud tilawah:
[*]Para ulama sepakat bahwa sujud tilawah dilakukan dengan satu kali sujud.[/*]
[*]Sujud tilawah dilakukan sama seperti sujud biasa dalam shalat, yaitu dengan meletakkan dua tangan, dua lutut, dua telapak kaki dan kening serta siku jauh dari dua sisi badan. Perut jauh dari sisi paha dan menghadapkan jari-jemari ke arah kiblat.[/*]
[*]Menurut pendapat yang kuat, tidak disyariatkan takbiratul ihram sebelum sujud dan juga tidak disyariatkan salam setelah bangun dari sujud. Karena tidak ada dalil shahih yang mendasarinya. Hal ini sebagaimana pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di Majmu’ Fatawa.[/*]
[*]Tidak disyaratkan bersuci dan menghadap kiblat, namun lebih utama dan lebih sempurna.[/*]
Bila dalam keadaan sedang sholat maka tata cara sujud tilawah yang benar adalah:
[#]Bertakbir tanpa mengangkat tangan setelah membaca ayat sajadah kemudian turun untuk sujud. Sebagaimana terdapat dalam hadits Umar dengan lafadz Abu Dawud: [I]“Biasanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam membacakan kepada kami sebuah surat dari Al Qur’an yang terdapat ayat sajadah, beliau bertakbir kemudian bersujud. Maka kami pun bersujud bersama beliau “‘[/I] (HR. Abu Dawud)[/#]
[#]Membaca doa dan tasbih saat bersujud[/#]
[#]Bertakbir kemudian bangun dari sujud dan meneruskan bacaan[/#]
Di sunnahkan sujud tilawah bagi orang yang membaca ayat sajdah dalam shalat fadhu maupun shalat sunnah, ini adalah pendapat jumhur ulama. Baik shalat sendiri maupun berjamaah, baik dalam kondisi sirriyah maupun jahriyah. Akan tetapi dimakruhkan bagi imam untuk membaca ayat sajdah dalam shalat sirriyah karena dikhawatirkan akan membuat bingung para makmum (Dinukil dari Shahih Fiqh Sunnah).
Adapun jika berada diluar shalat maka tata caranya:
1. Bertakbir sambil turun untuk sujud
2. Membaca doa dan tasbih saat bersujud
Adapun bacaan doa dan tasbih yang dibaca saat bersujud, boleh membaca:
[B]سبحان ربي الأعلى[/B]
Sebagaimana sujud dalam shalat fardhu. Atau dapat juga membaca:
[B]سَجد وجهي للذي خلقه وصوره وشق سمعه وبصره بحوله وقوته[/B]
Artinya: “Wajahku bersujud kepada Dzat Yang Menciptakan dan Membentuknya dan Membuka pendengarannya serta penglihatan dengan daya dan kekuatan-Nya” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi)
Atau membaca:
[B]اللهم لك سجدت, وبك أمنت, ولك أسلمت, أنت ربي, سجد وجهي للذي شق سمعه وبصره, تبارك الله أحسن الخالفين[/B]
Artinya: “Ya Allah, kepadamu aku bersujud, kepadamu aku beriman, kepadamu aku berserah diri. Engkau Tuhanku. Wajahku bersujud kepada Dzat Yang Membuka pendengaran dan penglihatannya. Semoga Allah memberkahi sebaik-baiknya perbedaan” (HR. Tirmidzi)
Syaikh Shalih Fauzan memberikan nasehat setelah menjelaskan tentang sujud tilawah: “Wahai ummat muslim. Sungguh jalan kebaikan banyak sekali. Wajib bagimu untuk bersungguh-sungguh dalam meraihnya. Dan senantiasa ikhlas dalam perkataan dan perbuatan. Semoga Allah menuliskan bagimu kebahagiaan yang banyak”.
[I]Maraji’:[/I]
[*]Mulakhosh fiqhi, Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan[/*]
[*]Al Wajiz fi fiqhis sunnah wa kitabil ‘aziz, Syaikh Abdul Azhim Al Badawi Al Khalafi[/*]
[*]At Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur’an, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi[/*]
[#]Shahih fiqhis sunnah wa adillatuhu wa taudhih madzahib al a’immah, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim[/#]
Artikel: [I]http://kangaswad.wordpress.com/[/I]
Endy Nugroho
07.27
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Mutawassith (Pertengahan), yaitu:
Menyederhanakan suara ketika melafalkan huruf. Sifatnya antara Syiddah dan Rakhawah. Hurufnya ada 5, yaitu yang tergabung dalam kalimat:
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Shafir, yaitu:
Suara tambahan yang mirip suara siulan. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 3, yaitu: Zay, Sin dan Shad
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Layin, yaitu:
Keluarnya suara dengan mudah dan memanjang. Sifatnya lemah. Hurufnya ada 2, yaitu: Wau dan Ya.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Endy Nugroho
07.17
New Google SEO
Bandung, IndonesiaKeluarnya suara dengan mudah dan memanjang. Sifatnya lemah. Hurufnya ada 2, yaitu: Wau dan Ya.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Inhiraf, yaitu:
Beralihnya suatu huruf setelah keluar dari makhrajnya kepada makhraj huruf lain. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 2, yaitu: Lam dan Ra.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !

Endy Nugroho
07.16
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBeralihnya suatu huruf setelah keluar dari makhrajnya kepada makhraj huruf lain. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 2, yaitu: Lam dan Ra.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Takrir, yaitu:
Bergetarnya ujung lidah ketika melafalkan huruf. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 1, yaitu: Ra.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Endy Nugroho
07.15
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBergetarnya ujung lidah ketika melafalkan huruf. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 1, yaitu: Ra.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Tafasysyi, yaitu:
Tersebarnya udara dalam mulut ketika melafalkan huruf. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 1, yaitu: Syin.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Endy Nugroho
07.14
New Google SEO
Bandung, IndonesiaTersebarnya udara dalam mulut ketika melafalkan huruf. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 1, yaitu: Syin.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Istithalah, yaitu:
Memanjangnya suara pada makhraj huruf. Sifatnya kuat. Hurufnya ada 1, yaitu: Dhad.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
http://belajartajwid3p.com
Khafa', yaitu:
Hilangnya sebagian suara huruf ketika melafalkannya. Sifatnya lemah. Hurufnya ada 3, yaitu: Ha, Wau dan Ya.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Hilangnya sebagian suara huruf ketika melafalkannya. Sifatnya lemah. Hurufnya ada 3, yaitu: Ha, Wau dan Ya.
Bunyi Huruf: Klik Huruf dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Ghunnah yaitu :
Suatu bacaan disebut ghunnah apabila ada bacaan Nun dan Mim bertasydid . Ghunnah artinya dengungan dan hokum bacaannya wajibul ghunnah (harus didengungkan). Penekanan ghunnah lebih kuat dibandingkan dengan bacaan idh-gham bila-ghunnah, hal ini karena bacaan ghunnah didahului harakat fathah, kasroh dan dhommah (huruf Mim dan Nun harus bertasydid).
Endy Nugroho
07.04
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Mad Thabi'i atau Mad Asli, yaitu:
Bila huruf yang setelah mad bukan huruf hamzah atau sukun.
Dinamakan thabi'i karena mad tersebut merupakan sesuatu yang thabi'i (alami), kadarnya tidak kurang dan tidak lebih. Aturan membacanya panjang 2 harakat.
Petunjuk: Pilih & Klik Diagram dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Endy Nugroho
06.59
New Google SEO
Bandung, IndonesiaBila huruf yang setelah mad bukan huruf hamzah atau sukun.
Dinamakan thabi'i karena mad tersebut merupakan sesuatu yang thabi'i (alami), kadarnya tidak kurang dan tidak lebih. Aturan membacanya panjang 2 harakat.
Petunjuk: Pilih & Klik Diagram dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Mad Far'i, adalah:
Mad yang merupakan tambahan terhadap mad thabi’i karena salah satu 2 sebab, yaitu: hamzah atau sukun.
Petunjuk: Pilih & Klik Diagram dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Endy Nugroho
06.59
New Google SEO
Bandung, IndonesiaMad yang merupakan tambahan terhadap mad thabi’i karena salah satu 2 sebab, yaitu: hamzah atau sukun.
Petunjuk: Pilih & Klik Diagram dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Mad Muttashil
Disebut mad muttashil, bila dalam satu kata bertemu mad thabi'i dengan huruf hamzah. Dinamakan muttashil karena mad thabi'i dengan huruf hamzah dalam satu kata.
Mad muttashil disebut juga mad wajib. Aturan bacaannya panjang, 4 harakat atau 5 harakat atau 6 harakat ketika berhenti.
Petunjuk: Pilih & Klik Diagram dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Ar-Ra'd (13): 21 Bunyi Surah: Klik Surah di Atas !
Endy Nugroho
06.58
New Google SEO
Bandung, IndonesiaDisebut mad muttashil, bila dalam satu kata bertemu mad thabi'i dengan huruf hamzah. Dinamakan muttashil karena mad thabi'i dengan huruf hamzah dalam satu kata.
Mad muttashil disebut juga mad wajib. Aturan bacaannya panjang, 4 harakat atau 5 harakat atau 6 harakat ketika berhenti.
Petunjuk: Pilih & Klik Diagram dengan Latar Belakang Warna Kuning !
Ar-Ra'd (13): 21 Bunyi Surah: Klik Surah di Atas !
Pengertian Iqlab
Al-Hadiid (57): 6
Endy Nugroho
06.57
New Google SEO
Bandung, Indonesia
Menurut Muhammad Mahmud, Iqlab dalam arti bahasa adalah : “Mengubah bentuk sesutu dari asalnya”. Yaitu mengubah huruf nun mati atau tanwin pada huruf Iqlab. Sedangkan menurut istilah adalah : “Menjadikan huruf satu pada ketentuan huruf lain disertai mendengung”.
Apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf Iqlab, maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca sebagaimana bacaan Iqlab disertai dengan mendengung.
Huruf Iqlab
Huruf Iqlab hanya ada satu, yaitu : Ba’ (ب) . Maka apabila ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf Ba’, maka nun mati atau tanwin itu harus dibaca menjadi Mim (م) , karena bacaan Iqlanb.
Al-Hadiid (57): 6
Idgham
1. Pengertian
Menurut Muhammad Mahmud, Idgham dalam arti bahasa berarti : “Memasukkan sesuatu pada sesuatu”. Arti ini jika dikembangkan, berarti memasukkan huruf nun mati pada huruf Idgham. Sedangkan menurut istilah adalah : “Pertemuan huruf yang mati dengan huruf yang hidup, sehingga huruf itu menjadi satu huruf yang di Tasydid”.
Pada pengertian itu tampak, bahwa cara membaca bacaan Idgham adalah memasukkan nun mati atau tanwin pada huruf-huruf Idgham, dan seakan-akan kedua huruf itu menjadi satu, seperti huruf-huruf yang di Tasydid, walaupun asal kedua huruf tersebut tidak bertasydid.
2. Huruf-Huruf Idgham
Huruf-huruf Idgham ada 6 (enam) macam, yaitu : Ya’ (ي) , Nun (ن) , Mim (م) , Wawu (و) , Lam (ل) , dan Ro’ (ر) . Sehingga jika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu keenam huruf tersebut, maka nun mati atau tanwin tersebut harus dimasukkan padanya.
3. Pembagian Idgham
Dilihat dari pembagian huruf Idgham, maka Idgham dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu :
a. 1. Idgham Bi-Ghunnah
Huruf-huruf Idgham Bi-Ghunnah sepeti yang tertera diatas hanya terdiri dari 4 (empat) huruf, yaitu : Ya’ (ي) , Nun (ن) , Mim (م) ,dan Wawu (و) , sisanya termasuk huruf Idgham Bila-Ghunnah.
Idgham Bi-Ghunnah adalah membunyikan nun mati atau tanwin dengan memasukkan pada huruf Idgham Bi-Ghunnah disertai dengan mendengung. Dengan catatan tidak dalam satu kalimat, apabila dalam satu kalimat maka, cara bacanya berubah menjadi Izh-har (Terang). Ulama tajwid menyebutnya Izh-Har Kilmi, atau disebut juga Izh-Har Wajib.
b. 2. Idgham Bila-Ghunnah
Huruf-huruf Idgham Bi-Ghunnah sepeti yang tertera diatas hanya terdiri dari 4 (empat) huruf, yaitu : Lam (ل) dan Ro’ (ر) .
Idgham Bila-Ghunnah yaitu cara membaca nun mati atau tanwin dengan memasukkannya pada huruf Lam atau Ro’, tanpa mendengung. Jika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari kedua huruf itu, maka wajib dimasukkan padanya tanpa mendengung.
Huruf idgham ada 6, yaitu yang tergabung dalam kalimat:
Izh-Har
1. Pengertian
Muhammad Mahmud menyatakan, bahwa dalam arti bahasa izh-har berarti “Al-Bayan” artinya terang, jelas dan tampak. Sedang menurut istilah adalah : “Mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya, tanpa disertai berdengung”.
Pengertian ini menjelaskan agar cara membaca nun mati atau tanwin jelas dan terang, tanpa disertai dengung jika bertemu dengan huruf izh-har.
2. Huruf-Huruf Izh-har
Huruf Izh-har ada 6 (enam) macam, keenam huruf itu disebut juga huruf Halqi (Tenggorokkan), karena Makhraj Huruf Izh-har pada Halqi. Adapun huruf-huruf Halqi tersebut adalah : Hamzah (ء) , Ha’ (ح) , Kha’ (خ) , ‘Ain (ع) , Ghain (غ) , dan Ha’ ( هـ) . Dengan keenam huruf tersebut, maka bacaan ini disebut sebagai Izh-Har Halqi.
http://belajartajwid3p.com
Ikhfa'
1. Pengertian
Menurut Muhammad Mahmud, Ikhfa’ dalam arti bahasa adalah : “Assatru”, artinya menutupi atau menyembunyikan. Sedangkan menurut istilah adalah : “Ikhfa’ adalah pengungkapan huruf yang mati dan tersembunyi atau sunyi dari tasydid pada bacaan antara terang (Idh-Har) dan memasukkan dengan mendengungkan (Idgham) pada huruf pertama”.
Pengertian tersebut tampak jelas, bahwa bacaan Ikhfa’ itu bacaan yang samar-samar antara Izh-Har (terang) dengan Idgham (memasukkan) disertai mendengung.
2. Huruf-Huruf Ikhfa’
Huruf-huruf Ikhfa’ ada 15 (limabelas) macam, selain dari pada huruf-huruf Izh-Har, Idgham, dan Iqlab diatas. Yaitu : Ta’ (ت) , Tsa’ (ث) , Jim (ج) , Dal (د) , Dzal (ذ) , Zai (ز) , Sin (س) , Syin (ش) , Shad (ص) , Dhad (ض) , Tha’ (ط) , Zha’ (ظ) , Fa’ (ف) , Qaf (ق) dan Kaf (ك) .
