Home » » PELAJARAN KSEBELAS – MUSTHOLAH HADITS

PELAJARAN KSEBELAS – MUSTHOLAH HADITS

Posted by ENDI NUGROHO on Rabu, 15 Februari 2012

HADITS DITINJAU DARI SISI METODE PERIWAYATANNYA
METODE MENGEMBAN HADITS DAN CARA MENYAMPAIKANNYA
(AT TAHAMMUL WAL ADA’)
Seseorang yang telah mempelajari hadits dengan sungguh-sungguh dengan cara yang benar memiliki beberapa kode etik yang harus dia jaga dan dia pelihara, baik ketika masih menjadi pelajar itu sendiri atau ketikadia sudah mengajarkannya kepada orang lain kelak. Di dalam ilmu mushtholah hadits hal ini dikenal dengan istilah at tahammul wal ada’. Pada pelajaran hadits yang terakhir ini kita akan mempelajari kedua hal ini.
DEFINISI TAHAMMUL (MENGEMBAN HADITS)
Menurut Bahasa
Yaitu bentuk mashdar dari : تَحَمَّلَ يَتَحَمَّلُ تَحَمُّلاً   . Dikatakan حَمَّلَهُ الأمْرُ  maknanya adalah membebankan suatu urusan kepadanya.
 Menurut Istilah
Yaitu mempelajari sebuah hadits dari seorang syeikh.
 DEFINISI ADA’ (MENYAMPAIUKAN HADITS)
Menurut Bahasa
Yaitu menyampaikan sesuatu dan menunaikannya.
Menurut istilah
Yaitu menyampaikan sebuah hadits setelah mengembannya.
 METODE MENGEMAB DAN KALIMAT-KALIMAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MENYAMPAIKAN HADITS
  • Mendengarkan langsung dari perkataan syeikh
    1. Bentuknya adalah jika seorang syeikh itu membaca dan seorang murid mendengarkannya, baik dia membaca dari kitabnya atau dari hafalannya.
    2. Kata-kata yang digunakan untuk menunaikannya.
Jika murid itu meriwayatkan dari syeikh itu dengan cara ini, maka dia boleh berkata : “Aku mendengar atau dia bercerita kepadaku”, jika dia sendirian. Atau : “Dia bercerita kepada kami”, jika ada orang lain bersamanya.

  • Bacaan di hadapan syeikh
  1. Bentuknya adalah jika seorang murid atau orang lain membaca hadots-hadits yang diriwayatkan oleh seorang syeikh dan syeikh itu mendengarkan, baik bacaan itu berasal dari hafalan atau dari sebuah kitab, baik seorang syeikh itu mengoreksi pembaca itu dari hafalannya sendiri atau dia memegang kitabnya.
  2. Kata-kata yang digunakan untuk menunaikannya.
Jika seorang murid hendak meriwayatkan dari syeikh dengan metode ini, maka dia dapat berkata :
                  1).          “Syeikh itu mermberitahu kami”.
                  2).          “Aku membaca di hadapan syeikh” atau “Dibacakan di hadapannya dan aku mendengar”.
                  3).          “Dia bercerita kepada kami atau dia memberitahu kami secara bacaan di hadapannya”.
  •  Ijazah (pemberian ijin)
  1. Bentuknya adalah jika seorang syeikh itu berkata kepada salah seorang muridnya : “Aku mengijinkan kamu untuk meriwayatkan hadits-haditsku atau kitab-kitabku dariku”.
  2. Hukum meriwayatkan hadits dengan metode ini.
Para ulama berbeda pendapat tentang kebolehannya, yaitu :
                         1).          Tidak boleh. Ibnu Hazm berkata : “Itu adalah bid’ah, tidak boleh”.
                         2).          Boleh. Dan ini adalah pendapat jumhur.
  •  Munawalah (Memberikan)
  1. Bentuknya adalah dua macam, yaitu
                               1).          Munawalah yang diiringi dengan ijazah
a).    Bentuknya adalah jika seorang syeikh memberikan sebuah kitab kepada seorang murid dan dia berkata : “Ini adalah yang aku dengarkan dari fulan atau ini adalah karanganku. Maka riwayatkanlah dariku”.
b).   Hukum meriwayatkannya adalah boleh menurut jumhur.
                            2).          Munawalah yang tidak diirngi dengan ijazah
a).    Bentuknya adalah jika seorang syeikh itu memberikan sebuah kitab kepada seorang murid dan dia berkata : “Ini adalah hadits yang aku dengarkan”.
b).   Hukum meriwayatkannya adalah tidak boleh menurut jumhur ahli hadits, ahli fiqih dan ushul fiqih.
 Kata-kata yang digunakan untuk menunaikannya.
                             1).          “Fulan itu telah memberikan kitab kepadaku”.
                             2).          “Dia bercerita kepadaku dengan metode munawalah” atau dia bercerita kepadaku dengan metode munawalah”.
  •  Kitabah (tulisan)
  1. Bentuknya adalah dua macam, yaitu
                           1).          Kitabah yang diirngi dengan ijazah
a).    Bentuknya adalah jika seorang syeikh menulis haditsnya dengan tangannya atau mengijinkan seseorang yang dia percaya untuk menulisnya dan mengirimkannya kepada muridnya dan mengijinkannya untuk meriwayatkannya darinya.
b).   Hukum meriwayatkannya adalah boleh. Bukhari berkata : “Tidaka da perbedaan pendapat dalam hal ini”.
                              2).          Kitabah yang tidak diiringi dengan ijazah
a).    Bentuknya adalah jika seorang syeikh menulis haditsnya dengan tangannya atau mengijinkan seseorang yang dia percaaya untuk menulisnya dan mengirimkannya kepada muridnya dan dia tidak mengijinkannya untuk meriwayatkannya darinya.
b).   Hukum meriwayatkannya
Ini diperselisihkan menjadi dua buah pendapat
  1. Boleh. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama
  2. Tidak boleh
 Kata-kata yang digunakan untuk menunaikannya.
Jika seorang murid hendak meriwayatkan dengan metode ini, maka dia boleh berkata :
                         1).          “Telah ditulis kepada seseorang”.
                         2).          “Fulan bercerita kepadaku dengan cara tulisan” atau dia memberitahu kepadaku dengan cara tulisan”.
  •  I’lam (Pemberitahuan)
Bentuknya adalah jika seorang syeikh itu memberitahukan kepada seorang murdi bahwa hadits-hadots ini dia dengarkan dari fulan atau kitab ini dia riwayatkan dari fulan, baik dia mengijinkannya untuk meriwayatkannya darinya atau tidak memberikan ijin kepadanya.
Hukum meriwayatkannya
Ini dierselisihkan menjadi dua buah pendapat :
                           1).          Boleh
                           2).          Tidak boleh, kecuali jika syeikh itu mengijinkannya. Ini adalah pendapat kebanyakan ahli hadits, fiqih dan ushul fiqih.
 Kata-kata yang digunakan untuk menunaikannya.
“Syeikhku memberitahukan kepadaku dengan ini … “.
  •  Washiat sebuah kitab
Bentuknya adalah jika seorang syeikh itu memberikan wasiat kepada seseorang dengan sebuah kitab yang dia riwayatkan sebelum kematiannya atau sebelum kepergiannya kepada seseorang.
Hukum meriwayatkannya
Ini diperselisihkan menjadi dua buah pendapat :
              1).          Boleh meriwayatkannya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syeikh Ahmad Syakir. Ibnu Sholah berkata : “Ini jauh sekali”. An Nawawi berkata : “Ini adalah kesalahan. Yang benar adalah tidak boleh”.
               2).          Tidak boleh meriwayatkannya, kecuali jika murid itu mendapatkan ijin (ijazah) dari syeikh itu.
  •  Wijadah (menemukan)
Bentuknya adalah jika seorang murid itu menemukan sebuah hadits atau sebuah kitab yang ditulis oleh seseorang yang dia tidak mendengar secara langsung darinya dan dia tidak mendapatkan ijazah darinya.
  1. Hukum meriwayatkannya adalah tidak boleh.
  2. Kata-kata yang digunakan untuk menunaikannya
Jika seorang murid hendak meriwayatkan dari seorang syeikh dengan metode ini, maka dia boleh berkata : “Aku menemukan tulisan seseorang”.

Thanks for reading & sharing ENDI NUGROHO

Previous
« Prev Post

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog

Popular Posts